Pria dan Wanita sama-sama Alien
Sabtu, 14 Februari 2009
”ngunduh tresno salah mongso, pungkasane dadi perkoro”
Menurut Dr. Gray dalam bukunya berjudul ”Men are from Mars, Women are from Venus” dikisahkan bahwa pria dan wanita penghuni bumi ini berasal dari planet yang berbeda. Pria berasal dari planet Mars sedangkan wanita berasal dari Planet Venus. Pada mulanya, penduduk Mars jatuh cinta pada penduduk Venus setelah mengamati melalui teropongnya dan memutuskan melakukan penerbangan ke Venus. Gayung pun bersambut, kedatangan penduduk Mars disambut penduduk Venus dengan hangat dan tangan terbuka. Kedua penduduk planet merasakan suatu keajaiban cinta, saling berbagi rasa, saling menghargai perbedaan, dan hidup damai dalam keselarasan hingga bertahun-tahun lamanya. Sampai suatu ketika, mereka memutuskan untuk terbang ke bumi
Pada awalnya segala sesuatunya indah dan menyenangkan. Namun pengaruh atmosfer bumi mulai merasuk, dan pada suatu pagi setiap orang terbangun dan mengalami suatu amnesia yang aneh (amnesia selektif). Orang Mars maupun Venus telah lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berbeda dan memang seharusnya berbeda. Segala sesuatu yang mereka ketahui tentang perbedaan antar mereka pun terhapus dari memori dan kesadaran, sehingga pria dan wanita terus-menerus bertengkar.
Ilustrasi Dr. Gray tersebut setidaknya mampu memberikan penjelasan kepada kita mengapa hubungan antara pria dan wanita selalu fluktuatif dan sering tidak harmonis, entah hubungan secara umum atau hubungan spesial. Wanita tiba-tiba marah dan sedih karena merasa tidak diperhatikan, kaum pria juga secara mengejutkan menarik diri dari pergaulan dan cenderung diam, dan kesalahpahaman terus terulang yang melahirkan pertengkaran-pertengkaran berseri (kalau disinetronkan bisa menjadi beratus-ratus judul dan beribu-ribu episode). Bahkan untuk yang telah berpasangan, ketidakharmonisan hubungan menimbulkan intrik-intrik percintaan tingkat atas, seperti perselingkuhan.
Jatuh cinta memang ajaib dan terasa selalu abadi. Dengan mudah kita menganggap cinta itu ibarat nyala api Mrapen yang tak pernah kunjung padam serta tak pula pernah lapuk termakan usia. Ketika keajaiban itu raib, masing-masing pihak menjadi penuntut, pembenci, mudah menghakimi, dan tidak sabaran. Pria mengharapkan wanita berfikir dan bertindak seperti pria, sebaliknya wanita menghendaki pria merasa dan berperilaku sebagaimana wanita. Niat baik dan penuh kasih, sayangnya tidak mampu mencegah mati rasa cinta (interrelationship deadlock, ill feel, BT, dsb).
Untuk memperoleh hubungan yang harmonis, Dr Gray menyarankan agar kita memahami perbedaan-perbedaan antara pria dan wanita yang diimbangi dengan rasa saling menghargai dan memahami. Apa saja perbedaan-perbedaan tersebut? Harap sabar untuk menunggu posting selanjutnya.
**####**
Sekarang lakukan apa yang saya minta! Pertama, bayangkanlah kalau pria dan wanita yang Anda kenal merupakan alien, makhluk asing, dengan penampakan yang sebenar-benar alien (bukan wujud manusia). Kalau susah berimajinasi bentuk alien seperti apa, recall ingatan Anda pada tayangan-tayangan mistis televisi kita. Kalau sudah, kini wujud aneh makhluk alam lain telah Anda lihat bertebaran di muka bumi.
1. Dapatkah Anda mencintai atau setidaknya memiliki rasa sayang kepada ”makhluk” di depan kita, meskipun dalam wujud manusianya yang kita lihat tersebut adalah kekasih kita? Mampukah Anda melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata?
a. Jika Anda sanggup mencintai kekasih Anda dalam wujud yang sebenar-benarnya (alien), berarti cinta Anda sangat amat tulus dan sejati.
b. Jika Anda tidak sanggup melakukannya (red. sayang), berarti persepsi/arti cinta Anda masih sebatas fisik. Keindahan fisik memang bumbu penyedap mata, tapi tidak akan indah selamanya. Mudanya memang kencang dan mulus, tapi tua tetap saja keriput, dan mati pun jadi bangkai.
2. Bila Anda tetap tidak bisa merasakan dan membayangkan bagaimana mencintai makhluk luar angkasa yang super aneh, sudah semestinya kita bersyukur kepada Allah SWT yang menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya
Selengkapnya...
Terima Kasih atas Pengkhianatanmu
Rabu, 11 Februari 2009
”Hatimu tak sebening bola matamu, kelakuanmu tak semanis bibir mungilmu, dan kebohonganmu tersembunyi dalam rambut kritingmu”Bagi sebagian orang, terutama remaja, bulan Februari identik dengan nuansa romantisme di mana salah satu hari dari bulan tersebut terdapat peringat “hari cinta sedunia”. Sebagian yang lain, menganggap setiap hari adalah spesial dan berusaha untuk senantiasa diwujudkan dalam suatu keindahan meski melalui wujud yang sederhana. Namun ada pula yang beranggapan tidak ada lagi cinta yang tulus di dunia ini, semua serba bersyarat.
Dalam tulisan ini, ku tak ingin mengungkit pertentangan pendapat tentang peringatan dan perayaan ”hari cinta sedunia”. Melalui dominasi nuansa cinta yang terkandung dalam bulan ini, ku hanya ingin mengaksentuasikan peristiwa yang dialami seorang teman beberapa waktu lalu dalam sebuah surat cinta. Betapa baiknya temanku itu, meskipun cintanya dikhianati, ia tidak marah, mengeluarkan kata-kata kasar, ataupun melakukan kekerasan fisik (red. menampar) kepada kekasihnya. Kalau andaikata seandainya dan bilamana aku menjadi dirimu teman, akan kutulis sepucuk surat cinta berikut.
Kepadamu sang terkasih yang pernah singgah di kedalaman hatiku,
Terima kasih cintaku, kau telah memberi rasa yg takkan kulupa
Rasa bahagia yg tlah kau ganti menjadi nestapa
Rasa rindu yg tlah kau ganti menjadi pilu
Rasa cinta yang tlah kau ganti menjadi duka
Beruntunglah dirimu tlah khianati kesetianku sebelum kau menjadi istriku
Karena istri yang mengkhianati suaminya, nerakalah tempatnya
Tuhan takkan mengizinkan seorang istri yang durhaka untuk menikmati indahnya surga, meski sekedar mencium baunya.
Boleh jadi kamu sekarang tertawa riang bahagia
Namun, bahagia di atas penderitaan orang lain adalah pekerjaan mafia
Bahagia seperti itu takkan bertahan lama
Tinggal menunggu waktu datangnya karma
Merengkuh indahnya cinta memang seperti menuai mawar di kebun sendiri
Indahnya mekar bunga, telah melenakan diri
Meskipun ku rawat sendiri, tak ada jaminan bebas luka tertusuk duri
Ilustrasi Peristiwa
Sebutlah namanya Budi yang mencintai sepenuh hati gadis pujaan hatinya Wati. Kurang lebih 10 bulan lamanya hubungan cinta keduanya berjalan baik-baik saja. Bahkan keluarga masing-masing pihak menyambut hangat hubungan cinta mereka. Alkisah, demi membahagiakan Wati, Budi berjuang keras untuk melanjutkan kuliah ekstensi (kuliah sabtu-minggu) agar mendapt gelar S1 sambil tetap bekerja di bank swasta nasional di Jakarta. Beberapa waktu berselang, Wati juga melanjutkan kuliah S2 di Semarang meskipun harus meninggalkan kekasihnya dan keluarganya di Jakarta. Hubungan jarak jauh seakan tidak meredupkan gelora cinta mereka, hingga suatu waktu di penghujung tahun baru 2008. Tanpa di duga, ternyata di perantauan Wati selingkuh dengan mantan kekasihnya dulu (cinta pertama) yang kebetulan tinggal sekota. Entah sudah berapa lama hubungan gelap tersebut telah terjalin.
Namun, sesuatu hal terjadi sedemikian sehingga semua kedok penyelewengan tersebut telah terbongkar. Harusnya, ketika Budi dan Wati bersama-sama menikmati pesta pergantian tahun yang bermandikan cahaya kembang api, namun yang ada justru hujan air mata. Meskipun cintanya dikhianati, Budi memberikan waktu dua hari untuk berfikir apakah Wati tetap mencintai Budi atau memilih Tono (cinta pertama Wati). Ternyata, Wati memilih Tono karena mungkin dianggap sebagai pengobat kerinduan di tanah perantaun dan sekaligus memori cinta pertama yang masih kuat melekat. Walaupun telah diputus dengan tidak berperasaan, Budi mengantarkan Wati terakhir kalinya ke stasiun KA menuju Semarang untuk melanjutkan studi S2 sekaligus bersua dengan kekasih “baru”nya (Kisah ini berdasarkan cerita nyata, namun tidak diungkap seluruhnya. Untuk menghormati privasi, nama pelaku disamarkan).
Selengkapnya...
Namun, sesuatu hal terjadi sedemikian sehingga semua kedok penyelewengan tersebut telah terbongkar. Harusnya, ketika Budi dan Wati bersama-sama menikmati pesta pergantian tahun yang bermandikan cahaya kembang api, namun yang ada justru hujan air mata. Meskipun cintanya dikhianati, Budi memberikan waktu dua hari untuk berfikir apakah Wati tetap mencintai Budi atau memilih Tono (cinta pertama Wati). Ternyata, Wati memilih Tono karena mungkin dianggap sebagai pengobat kerinduan di tanah perantaun dan sekaligus memori cinta pertama yang masih kuat melekat. Walaupun telah diputus dengan tidak berperasaan, Budi mengantarkan Wati terakhir kalinya ke stasiun KA menuju Semarang untuk melanjutkan studi S2 sekaligus bersua dengan kekasih “baru”nya (Kisah ini berdasarkan cerita nyata, namun tidak diungkap seluruhnya. Untuk menghormati privasi, nama pelaku disamarkan).
Power of The Dream
Senin, 19 Januari 2009
"The power of the dream, the faith in things unseen"
Tahun 2008 baru saja lewat, kini kita mulai menapaki tahun 2009. Ada baiknya kita sejenak merenungkan kembali tentang tujuan hidup atau keinginan yang ingin kita capai (impian). Bisa jadi apa yang telah kita raih selama tahun kemarin adalah sia-sia karena tidak semakin mendekati impian. Orang bijak berkata, ”Seseorang yang memiliki tujuan jelas akan meraih kemajuan, walaupun melalui jalan yang sulit. Sebaliknya, orang yang tidak punya tujuan tidak akan maju meskipun jalannya mulus.”
Merancang tujuan membuat kita memiliki arahan untuk menjalani hidup dengan baik. Sekalipun jalan yang kita lalui berat, proses perjalanan tak sulit untuk dilewati. Memiliki tujuan membuat kita memiliki motivasi. Impian dapat melahirkan keyakinan untuk mewujudkan hal-hal yang belum kita lihat.Kekuatan impan pula yang bisa membuat oprang melakukan sesuatu yang begitu spektakuler melintasi batasan/kendala fisik dan kodisi obyektif. Impian akan memberi dorongan efergi, semangat atau roh inspiratif untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat dipraktikkan sebelumnya.
Tidaklah terlalu penting di mana kita berada dahulu atau di mana kita berada sekarang, yang terpenting adalah ke amana tujuan kita saat ini. Pertanyaan saya: Apakah tujuan hidup Anda? Jangan-jangan Anda tidak punya tujuan hidup. Silakan merenungi pertanyaan saya, sembari menikmati lagu “Power of the Dream” yang dinyanyikan oleh Celine Dion.
Power Of The Dream
Celine Dion
Deep within each heart
There lies a magic spark
That lights the fire of our imagination
And since the dawn of man
The strenght of just "I can"
Has brought together people of all nations
There’s nothing ordinary
In the living of each day
There’s a special part
Every one of us will play
Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
As the world gives us its best
To stand apart from all the rest
It is the power of the dream that brings us here
Your mind will take you far
The rest is just pure heart
You’ll find your fate is all your own creation
Every boy and girl
As they come into this world
They bring the gift of hope and inspiration
Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
The world unites in hope and peace
We pray that it will always be
It is the power of the dream that brings us here
There’s so much strength in all of us
Every woman child and man
It’s the moment that you think you can’t
You’ll discover that you can
The power of the dream
The faith in things unseen
The courage to embrace your fear
No matter where you are
To reach for your own star
To realize the power of the dream
A Journey to Aceh: Snapshot Picture
Minggu, 28 Desember 2008
“masa lalu adalah sejarah, masa sekarang adalah kenyataan, masa depan adalah harapan dan impian”
Gambar di samping saya ambil di Kab Kuta Raja, Banda Aceh. Rumah adat Aceh seperti itu jarang ditemui di ibu kota Banda Aceh atau kota lain yang tersapu Tsunami. Telah banyak rumah-rumah beton dengan arsitektur modern minimalis. Khusus di pinggir-pinggir jalan besar/utama, kini telah menjamur ruko-ruko (rumah toko) mewah. Setelah rekonstruksi, tak terlihat kalau lima tahun yang lalu, Banda Aceh terkena Tsunami yang cukup parah. Bangunan-bangunan telah berdiri kokoh dan megah, jalan-jalan mulus, aktivitas perdagangan dan keseharian kembli normal serta tak lagi telihat puing-puing berserakan.
Night Live
Tetapi satu hal yg mesti diperhatikan adalah bahwa cuplikan-cuplikan peristiwa yang kusampaikan dalam artikel ini belum cukup untuk menggambarkan Aceh yang seutuhnya. Ini hanyalah potret sesaat dari kameraku yg bisa jadi berbeda dengan wajah Aceh beberapa tahun yg lalu atau yg akan datang, dan akan berbeda jika diambil dari sudut yang lain meskipun dalam waktu yg sama.
Diposting oleh
alhayat
di
12/28/2008
10
komentar
Label: Sketsa Alam, Sketsa Hati, Sketsa Sosial Budaya
Langganan:
Postingan (Atom)
Blogger Login Form
Please enter your username and password to enter your Blogger Dasboard page!

