Tampilkan postingan dengan label Sketsa Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Hati. Tampilkan semua postingan

Keinginan adalah Sumber Penderitaan

Minggu, 08 November 2009

”Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya ...... Ingin bahagia derita didapat
karena ingin sumber derita.” (Iwan Fals: Seperti Matahari)

Suatu sore, ketika diri masih terbuai mimpi, seorang teman menelpon menanyakan mengapa blog ini tidak “dirawat” lagi. Suatu pertanyaan yang sepertinya tidak bosan-bosannya ia tanyakan, atau mungkin pembaca yang lain juga merindukan tulisanku (he he he, sok punya penggemar). Ternyata, menulis bukan suatu hal yang mudah. Meski banyak peristiwa, gasasan, opini dan rasa yang tertinggal di hati, namun tetap saja tak mudah untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.

Ketika dulu ku mulai blog ini, saya berharap akan kecanduan untuk terus menulis. Ibarat bermain games komputer, kalau belum game over atau mencapai level tertinggi, rasanya belum mau/bisa berhenti. Ternyata eh ternyata, semua tak sesuai rencana. Godaan demi godaan selalu saja muncul yang membuat blog ini tersisih dalam duniaku. Salah satunya, Facebook (FB) mengalihkan dunia tulisku. Pokok gagasan, ide, pendapat, dan perasaan lebih mudah ditulis dalam kalimat pendek (update status FB) daripada dikembangkan dalam bentuk tulisan panjang yang penuh deskripsi, narasi, maupun argumentasi.

Persoalan utama terbengkalainya blog ini kemungkinan adalah lemahnya “iman” penulis sendiri. Keinginan/mood untuk menulis tidak stabil dan selalu naik-turun seperti gelombang laut. Ada kalanya perasaan menggebu-gebu untuk menulis (Aku menulis, maka aku ada). Ada kalanya juga tidak berkeinginan sama sekali untuk menulis (sudah terlalu letih dengan rutinitas, menulisnya nanti saja kalau sudah mendapat wangsit/ilham). Antusiasme untuk menulis terkadang juga dipengaruhi oleh jumlah komentar/tanggapan terhadap tulisan maupun jumlah pengunjung blog. Harap dimaklumi, penulis adalah manusia biasa. Niat menulis sebagai penyaluran gagasan dan informasi nyatanya tidak selalu lurus.

Atau mungkin benar juga kata seorang teman bahwa menulis akan lebih baik (paling tidak, gagasan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan) ketika seorang penulis berada pada kondisi tidak nyaman. Tengoklah nama besar seperti Pramodya Anantatoer (alm.) dan Arswendo Atmowiloto yang produktif menulis dibalik jeruji besi. Mungkin tak usah jauh-jauh mencari contoh, seperti halnya kita yang somehow bisa menyelesaikan skripsi/tesis ketika masa kuliah segera berakhir. Dalam pernyataan teman tersebut, terkandung makna ganda. Pertama, prasangka baik kepada penulis bahwa sekarang kondisinya semakin baik/nyaman (Alhamdulillah). Kedua, kenyamanan tersebut yang membuat penulis terlena untuk berhenti berkarya.

Semua alasan di atas rasanya hanyalah upaya pembenaran mengapa penulis sudah jarang lagi menulis dan merawat blog ini. Tetapi sungguh, keinginan untuk tetap menulis itu selalu ada dan terkadang menimbulkan penderitaan berganda bila tidak terwujud. Meminjam kata-kata Iwan Fals: keinginan adalah sumber penderitaan.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat dan dorongan untuk menulis kembali. Jayalah selalu blogger Indonesia dan tetaplah berkarya :D


PS: Terima kasih kepada seorang teman yang masih meluangkan waktu untuk mengingatkanku yang pemalas ini untuk terus menulis dan melanjutkan blog yang lama terhenti.
Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 11/08/2009 0 komentar  

Fabiayyialaa irobbikumaa tukadzibaan

Jumat, 22 Mei 2009

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”


Ya Allah, sungguh mulia Engkau. Kau-lah yang menanamkan semua kesadaran itu. Kami lahir tak bisa melihat, Kau buat melihat. Kami lahir tuli, Kau buat mendengar. Kami lahir tak bergerak, Kau buat melangkah. Kami lahir tak mengerti, Kau tanamkan pengertian.

Maha Suci Engkau ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Besar Engkau ya Allah, yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada pemilik dan milik selain Engkau. Tak punya dan mempunyai selain Engkau. Tetapi mengapa Kau harus menciptakan perasaan? Mengapa Engkau harus memasukkan bongkah yang disebut ”perasaan” itu kepada makhluk ciptaan-Mu? Perasaan kehilangan.... Perasaan memiliki.... Perasaan mencintai....

Kami tak melihat, Kau berikan mata; kami tak mendengar, Kau berikan telinga; kami tak bergerak, Kau berikan kaki; Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, itu semua berguna! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami. Mengapa?

Tiga paragraf di atas saya kutip dari beberapa catatan kaki dalam novel karya Tere-liye berjudul ”Hafalan Shalat Delisa.” Suatu penggambaran kenyataan bahwa seringkali manusia lupa akan nikmat rasa (bahagia, aman, tentram, damai, dsb) yang dianugerahkan oleh Tuhan. Manusia terjebak pada sesuatu nikmat yang kasat mata, seperti: mata, tangan, kaki, dsb. Namun tak mudah untuk mensyukuri nikmat yang tidak dapat dilihat maupun disentuh. Otak manusia lebih mudah berlogika dengan berbagai anugrah yang terlihat, tetapi tidak mampu berhitung dengan cermat akan anugrah yang tak terlihat. Jikapun kita mampu mensyukuri rasa bahagia, tetapi rasa itu seringkali berasal dari manipulasi pikiran kita sendiri atas suatu pencapaian visible and tangible yang seolah-olah hasil usaha kita sendiri. Bahwa Tuhan menciptakan perasaan (hati) yang membuat kita bahagia terkadang tak mampu kita sadari sepenuhnya.

Mungkin karena kenikmatan duniawi ini telah membuat manusia khilaf sehingga mata batinnya buta. Seringkali kita berjam-jam lamanya bertelfon dengan kekasih hati dengan ”khidmat” seraya tersenyum seakan ia melihat kita. Namun sedetikpun kita seringkali tak mampu menghadirkan keagungan Sang Pencipta dalam sujud kita. Ironi memang, perasaan yang diciptakan Tuhan, justru tak mampu mendeteksi kehadiran penciptanya. Perasaan itu sendiri baru kita sadari keberadaannya ketika ada musibah yang sedang menimpa. Suatu rasa sedih yang digunakan manusia untuk ”menggugat” Tuhannya akan penderitaannya. Namun manusia kembali lupa ketika Tuhan menolongnya dari segala kesusahan dan menghadirkan bahagia. Perasaan, adalah salah satu nikmat Tuhan yang seringkali manusia dustakan.
Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 5/22/2009 4 komentar  

Pahami Aku, Niscaya Ku Tak Lagi Terasa Asing Bagimu!

Rabu, 11 Maret 2009

”Kaum pria termotivasi dan bersemangat kala mereka merasa dibutuhkan. Kaum wanita jadi termotivasi dan bersemangat kala mereka merasa dicintai.”

Masih belajar dari Dr. Gray melalui bukunya yang berjudul ”Men are from Mars, Women are from Venus.” Kali ini saya ingin mencuplik bagian-bagian yang menurut saya menarik untuk dipaparkan terkait perbedaan antara pria dan wanita dari sisi psikologis. Semoga dengan memahami perbedaan tersebut, pria dan wanita tak lagi terasa seperti makhluk asing yang susah dipahami. Setidaknya, “alien” pun makhluk Tuhan yang mesti kita yakini adanya, tanpa harus ditakuti.

Salah satu perbedaan paling besar antara pria dan wanita adalah cara mereka menghadapi stres/masalah. Bila mengalami masalah, pria aka menarik diri ke gua pikirannya dan memusatkan perhatiannya untuk memecahkan persoalan tersebut. Biasanya akan memilih persoalan yang paling berat atau paling sulit. Pada saat demikian, pria jadi semakin menjauh, pelupa, dan tidak tanggap terhadap lingkungan sekitar. Dengan semakin memusatkan perhatian dan menarik diri, pria akan merasa semakin lebih baik dengan memecahkan persoalan.

Sebaliknya, bila sedang mengalami ketegangan jiwa, secara naluri wanita merasa perlu membicarakan perasaan-perasaannya dan segala masalah yang mungkin berkaitan dengan perasaan-perasaan itu. Saat mulai berbicara, ia tidak mengurutkan masalah mana pun. Ia tidak langsung memecahkan kesulitannya melainkan mencari kelegaan dengan mengungkapkan dirinya dan ingin dimengerti. Seperti halnya pria merasa puas karena menguraikan detil-detil rumit untuk memecahkan sebuah persoalan, wanita merasa puas karena membicarakan detil-detil kesulitannya.

Bahasa Mars dan bahasa Venus mempunyai kata-kata yang sama tetapi cara penggunaannya memberikan makna yang berbeda. Untuk dapat mengungkapkan perasaan secara utuh, wanita mengunakan berbagai macam superlatif, metafor, dan generalisasi. Namun, kaum pria secara keliru menangkap ungkapan ini menurut arti harfiahnya.

Keluhan nomor satu kaum wanita dalam hubungan-hubungan adalah: ”Saya merasa tidak didengarkan.” Terjemahan harfiah pria menuntunnya untuk mengabaikan dan membantah perasaan-perasaan wanita karena dianggap sebagai informasi faktual. Padahal, terjemahan yang tepat adalah: ”Saya merasa kamu tidak sepenuhnya memahami maksud saya dan tidak peduli perasaan saya. Maukah kauperlihatkan pada saya bahwa kamu menaruh minat pada apa yang saya katakan?”

Arti diri pria ditentukan oleh kemampuanya mencapai hasil-hasil (sukses dan prestasi). Menawarkan nasihat yang tidak diminta kepada pria berarti menganggap ia tak tahu apa yang harus dilakukan atau bahwa ia tidak dapat melakukannya sendiri. Penduduk Mars jarang membicarakan masalah-masalahnya kecuali jika ia membutuhkan nasihat ahli. Membicarakan suatu masalah di Mars berarti meminta nasihat.

Makna diri wanita ditentukan melalui perasanaan dan mutu hubungan mereka (berbagi dan bersosialisasi). Makna hubungan lebih penting daripada pekerjaan dan teknologi. Komunikasi merupakan kebutuhan utama.
Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 3/11/2009 3 komentar  

Pria dan Wanita sama-sama Alien

Sabtu, 14 Februari 2009

”ngunduh tresno salah mongso, pungkasane dadi perkoro”

Menurut Dr. Gray dalam bukunya berjudul ”Men are from Mars, Women are from Venus” dikisahkan bahwa pria dan wanita penghuni bumi ini berasal dari planet yang berbeda. Pria berasal dari planet Mars sedangkan wanita berasal dari Planet Venus. Pada mulanya, penduduk Mars jatuh cinta pada penduduk Venus setelah mengamati melalui teropongnya dan memutuskan melakukan penerbangan ke Venus. Gayung pun bersambut, kedatangan penduduk Mars disambut penduduk Venus dengan hangat dan tangan terbuka. Kedua penduduk planet merasakan suatu keajaiban cinta, saling berbagi rasa, saling menghargai perbedaan, dan hidup damai dalam keselarasan hingga bertahun-tahun lamanya. Sampai suatu ketika, mereka memutuskan untuk terbang ke bumi

Pada awalnya segala sesuatunya indah dan menyenangkan. Namun pengaruh atmosfer bumi mulai merasuk, dan pada suatu pagi setiap orang terbangun dan mengalami suatu amnesia yang aneh (amnesia selektif). Orang Mars maupun Venus telah lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berbeda dan memang seharusnya berbeda. Segala sesuatu yang mereka ketahui tentang perbedaan antar mereka pun terhapus dari memori dan kesadaran, sehingga pria dan wanita terus-menerus bertengkar.

Ilustrasi Dr. Gray tersebut setidaknya mampu memberikan penjelasan kepada kita mengapa hubungan antara pria dan wanita selalu fluktuatif dan sering tidak harmonis, entah hubungan secara umum atau hubungan spesial. Wanita tiba-tiba marah dan sedih karena merasa tidak diperhatikan, kaum pria juga secara mengejutkan menarik diri dari pergaulan dan cenderung diam, dan kesalahpahaman terus terulang yang melahirkan pertengkaran-pertengkaran berseri (kalau disinetronkan bisa menjadi beratus-ratus judul dan beribu-ribu episode). Bahkan untuk yang telah berpasangan, ketidakharmonisan hubungan menimbulkan intrik-intrik percintaan tingkat atas, seperti perselingkuhan.

Jatuh cinta memang ajaib dan terasa selalu abadi. Dengan mudah kita menganggap cinta itu ibarat nyala api Mrapen yang tak pernah kunjung padam serta tak pula pernah lapuk termakan usia. Ketika keajaiban itu raib, masing-masing pihak menjadi penuntut, pembenci, mudah menghakimi, dan tidak sabaran. Pria mengharapkan wanita berfikir dan bertindak seperti pria, sebaliknya wanita menghendaki pria merasa dan berperilaku sebagaimana wanita. Niat baik dan penuh kasih, sayangnya tidak mampu mencegah mati rasa cinta (interrelationship deadlock, ill feel, BT, dsb).

Untuk memperoleh hubungan yang harmonis, Dr Gray menyarankan agar kita memahami perbedaan-perbedaan antara pria dan wanita yang diimbangi dengan rasa saling menghargai dan memahami. Apa saja perbedaan-perbedaan tersebut? Harap sabar untuk menunggu posting selanjutnya.

**####**

Sekarang lakukan apa yang saya minta! Pertama, bayangkanlah kalau pria dan wanita yang Anda kenal merupakan alien, makhluk asing, dengan penampakan yang sebenar-benar alien (bukan wujud manusia). Kalau susah berimajinasi bentuk alien seperti apa, recall ingatan Anda pada tayangan-tayangan mistis televisi kita. Kalau sudah, kini wujud aneh makhluk alam lain telah Anda lihat bertebaran di muka bumi.


1. Dapatkah Anda mencintai atau setidaknya memiliki rasa sayang kepada ”makhluk” di depan kita, meskipun dalam wujud manusianya yang kita lihat tersebut adalah kekasih kita? Mampukah Anda melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata?

a. Jika Anda sanggup mencintai kekasih Anda dalam wujud yang sebenar-benarnya (alien), berarti cinta Anda sangat amat tulus dan sejati.
b. Jika Anda tidak sanggup melakukannya (red. sayang), berarti persepsi/arti cinta Anda masih sebatas fisik. Keindahan fisik memang bumbu penyedap mata, tapi tidak akan indah selamanya. Mudanya memang kencang dan mulus, tapi tua tetap saja keriput, dan mati pun jadi bangkai.

2. Bila Anda tetap tidak bisa merasakan dan membayangkan bagaimana mencintai makhluk luar angkasa yang super aneh, sudah semestinya kita bersyukur kepada Allah SWT yang menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya

Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 2/14/2009 7 komentar  

Terima Kasih atas Pengkhianatanmu

Rabu, 11 Februari 2009

”Hatimu tak sebening bola matamu, kelakuanmu tak semanis bibir mungilmu, dan kebohonganmu tersembunyi dalam rambut kritingmu”

Bagi sebagian orang, terutama remaja, bulan Februari identik dengan nuansa romantisme di mana salah satu hari dari bulan tersebut terdapat peringat “hari cinta sedunia”. Sebagian yang lain, menganggap setiap hari adalah spesial dan berusaha untuk senantiasa diwujudkan dalam suatu keindahan meski melalui wujud yang sederhana. Namun ada pula yang beranggapan tidak ada lagi cinta yang tulus di dunia ini, semua serba bersyarat.

Dalam tulisan ini, ku tak ingin mengungkit pertentangan pendapat tentang peringatan dan perayaan ”hari cinta sedunia”. Melalui dominasi nuansa cinta yang terkandung dalam bulan ini, ku hanya ingin mengaksentuasikan peristiwa yang dialami seorang teman beberapa waktu lalu dalam sebuah surat cinta. Betapa baiknya temanku itu, meskipun cintanya dikhianati, ia tidak marah, mengeluarkan kata-kata kasar, ataupun melakukan kekerasan fisik (red. menampar) kepada kekasihnya. Kalau andaikata seandainya dan bilamana aku menjadi dirimu teman, akan kutulis sepucuk surat cinta berikut.

Kepadamu sang terkasih yang pernah singgah di kedalaman hatiku,

Terima kasih cintaku, kau telah memberi rasa yg takkan kulupa
Rasa bahagia yg tlah kau ganti menjadi nestapa
Rasa rindu yg tlah kau ganti menjadi pilu
Rasa cinta yang tlah kau ganti menjadi duka

Beruntunglah dirimu tlah khianati kesetianku sebelum kau menjadi istriku
Karena istri yang mengkhianati suaminya, nerakalah tempatnya
Tuhan takkan mengizinkan seorang istri yang durhaka untuk menikmati indahnya surga, meski sekedar mencium baunya.

Boleh jadi kamu sekarang tertawa riang bahagia
Namun, bahagia di atas penderitaan orang lain adalah pekerjaan mafia
Bahagia seperti itu takkan bertahan lama
Tinggal menunggu waktu datangnya karma

Merengkuh indahnya cinta memang seperti menuai mawar di kebun sendiri
Indahnya mekar bunga, telah melenakan diri
Meskipun ku rawat sendiri, tak ada jaminan bebas luka tertusuk duri

Ilustrasi Peristiwa
Sebutlah namanya Budi yang mencintai sepenuh hati gadis pujaan hatinya Wati. Kurang lebih 10 bulan lamanya hubungan cinta keduanya berjalan baik-baik saja. Bahkan keluarga masing-masing pihak menyambut hangat hubungan cinta mereka. Alkisah, demi membahagiakan Wati, Budi berjuang keras untuk melanjutkan kuliah ekstensi (kuliah sabtu-minggu) agar mendapt gelar S1 sambil tetap bekerja di bank swasta nasional di Jakarta. Beberapa waktu berselang, Wati juga melanjutkan kuliah S2 di Semarang meskipun harus meninggalkan kekasihnya dan keluarganya di Jakarta. Hubungan jarak jauh seakan tidak meredupkan gelora cinta mereka, hingga suatu waktu di penghujung tahun baru 2008. Tanpa di duga, ternyata di perantauan Wati selingkuh dengan mantan kekasihnya dulu (cinta pertama) yang kebetulan tinggal sekota. Entah sudah berapa lama hubungan gelap tersebut telah terjalin.

Namun, sesuatu hal terjadi sedemikian sehingga semua kedok penyelewengan tersebut telah terbongkar. Harusnya, ketika Budi dan Wati bersama-sama menikmati pesta pergantian tahun yang bermandikan cahaya kembang api, namun yang ada justru hujan air mata. Meskipun cintanya dikhianati, Budi memberikan waktu dua hari untuk berfikir apakah Wati tetap mencintai Budi atau memilih Tono (cinta pertama Wati). Ternyata, Wati memilih Tono karena mungkin dianggap sebagai pengobat kerinduan di tanah perantaun dan sekaligus memori cinta pertama yang masih kuat melekat. Walaupun telah diputus dengan tidak berperasaan, Budi mengantarkan Wati terakhir kalinya ke stasiun KA menuju Semarang untuk melanjutkan studi S2 sekaligus bersua dengan kekasih “baru”nya (Kisah ini berdasarkan cerita nyata, namun tidak diungkap seluruhnya. Untuk menghormati privasi, nama pelaku disamarkan).

Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 2/11/2009 5 komentar  

Power of The Dream

Senin, 19 Januari 2009

"The power of the dream, the faith in things unseen"


Tahun 2008 baru saja lewat, kini kita mulai menapaki tahun 2009. Ada baiknya kita sejenak merenungkan kembali tentang tujuan hidup atau keinginan yang ingin kita capai (impian). Bisa jadi apa yang telah kita raih selama tahun kemarin adalah sia-sia karena tidak semakin mendekati impian. Orang bijak berkata, ”Seseorang yang memiliki tujuan jelas akan meraih kemajuan, walaupun melalui jalan yang sulit. Sebaliknya, orang yang tidak punya tujuan tidak akan maju meskipun jalannya mulus.”


Merancang tujuan membuat kita memiliki arahan untuk menjalani hidup dengan baik. Sekalipun jalan yang kita lalui berat, proses perjalanan tak sulit untuk dilewati. Memiliki tujuan membuat kita memiliki motivasi. Impian dapat melahirkan keyakinan untuk mewujudkan hal-hal yang belum kita lihat.Kekuatan impan pula yang bisa membuat oprang melakukan sesuatu yang begitu spektakuler melintasi batasan/kendala fisik dan kodisi obyektif. Impian akan memberi dorongan efergi, semangat atau roh inspiratif untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat dipraktikkan sebelumnya. 

Tidaklah terlalu penting di mana kita berada dahulu atau di mana kita berada sekarang, yang terpenting adalah ke amana tujuan kita saat ini. Pertanyaan saya: Apakah tujuan hidup Anda? Jangan-jangan Anda tidak punya tujuan hidup. Silakan merenungi pertanyaan saya, sembari menikmati lagu “Power of the Dream” yang dinyanyikan oleh Celine Dion.


Power Of The Dream
Celine Dion

Deep within each heart 
There lies a magic spark 
That lights the fire of our imagination 
And since the dawn of man 
The strenght of just "I can" 
Has brought together people of all nations 

There’s nothing ordinary 
In the living of each day 
There’s a special part 
Every one of us will play 

Feel the flame forever burn 
Teaching lessons we must learn 
To bring us closer to the power of the dream 
As the world gives us its best 
To stand apart from all the rest 
It is the power of the dream that brings us here 

Your mind will take you far 
The rest is just pure heart 
You’ll find your fate is all your own creation 
Every boy and girl 
As they come into this world 
They bring the gift of hope and inspiration 

Feel the flame forever burn 
Teaching lessons we must learn 
To bring us closer to the power of the dream 
The world unites in hope and peace 
We pray that it will always be 
It is the power of the dream that brings us here 

There’s so much strength in all of us 
Every woman child and man 
It’s the moment that you think you can’t 
You’ll discover that you can 

The power of the dream 
The faith in things unseen 
The courage to embrace your fear 
No matter where you are 
To reach for your own star 
To realize the power of the dream

Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 1/19/2009 0 komentar  

A Journey to Aceh: Snapshot Picture

Minggu, 28 Desember 2008

“masa lalu adalah sejarah, masa sekarang adalah kenyataan, masa depan adalah harapan dan impian”


Gambar di samping saya ambil di Kab Kuta Raja, Banda Aceh. Rumah adat Aceh seperti itu jarang ditemui di ibu kota Banda Aceh atau kota lain yang tersapu Tsunami. Telah banyak rumah-rumah beton dengan arsitektur modern minimalis. Khusus di pinggir-pinggir jalan besar/utama, kini telah menjamur ruko-ruko (rumah toko) mewah. Setelah rekonstruksi, tak terlihat kalau lima tahun yang lalu, Banda Aceh terkena Tsunami yang cukup parah. Bangunan-bangunan telah berdiri kokoh dan megah, jalan-jalan mulus, aktivitas perdagangan dan keseharian kembli normal serta tak lagi telihat puing-puing berserakan.

Bahkan lokasi di sekitar Kapal Apung PLN yang terdampar jauh ke daratan, kini menjadi taman peringatan tsunami yang telah tertata indah dan asri. Di salah satu sudut taman ini, terpampang foto-foto Aceh ketika dilanda Tsunami. Kabarnya, kapal tersebut tidak ditempatkan kembali seperti semula karena biaya untuk metarik/ memindahkannya ke laut sama dengan harga kapal itu sendiri.



Angkutan umum yg khas di Aceh adalah becak bermotor (bentor). Sepeda motor roda dua dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat memuat penumpang dimana bangu penumpang diberi atap.



Suksesnya pembangunan Aceh pasca tsunami tak terlepas dari peran Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) yg pada bulan April 2009 nanti akan selesai beroperasi. Kata seorang staf BRR, dahulu markas BRR seperti pasar malam yg banyak dikunjungi masyarakat terkait bantuan pembanguan rumah cuma-cuma. Kini seiring masa operasi BRR yg hampir habis, kondisinya sangat sepi dan kantinnya hanya tersisa satu warung ansi saja. Markas BRR terletak di lingkungan kantor Dinas PU Provinsi dimana bangunannya merupakan sumbangan dari negara China.

Night Live

Dahulu bayangan saya, suasana malam di Aceh begitu wingit (sakral), lengang dan sepi, diberlakukan jam malam, susah keluar malam, anak-anak belajar ngaji di rumah, … pokoknya mirip kota santri mengingat Aceh menerapkan Perda Syariah. Namun tampaknya semua dugaanku ga ada yg sesuai, suasana kehidupan malam di Aceh tak jauh dari suasana di kota-kota besar di Indonesia lainnya. Aceh bukanlah kota mati, aktivitas perdagangan (restoran, toko kelontong, kios elektonik, pasar, dsb) masih aktif dan semakin bergairah meskipun hari telah larut. Lebih lagi di warung kopi, tempat pemuda-pemudi atau orang dewasa lainnya pada kumpul-kumpul. Istilah populer bagi mereka adalah “ngupi-ngupi”, mengkin karena kopi sebagai teman ngobrol yg utama.

Semakin malam, aroma “kebebasan” mulai terasa menyengat. Bukan hanya remaja-remaja putra, tetapi remaja-remaja putri juga ngupi-ngupi hingga larut malam. Seakan menyiratkaan itulah makna ’emansipasi wanita’ dan persamaan hak. Bahkan tak sedikit para wanita menghisap rokok. Dan yang semakin membuat miris, SPG rokok juga wanita-wanita cantik berbalut jilbab. Bener-bener ga masuk di akal saya. Bagaimana bisa daerah yg menerapkan Perda Syariah, namun pengaturannya masih sebatas atribut belum sampai ke tingkat perilaku. Kalau di Jakarta mungkin hal tersebut wajar adanya karena heterogenitas budaya yg lebih condong ke barat-baratan (liberal dan hedonis). Inikah pengaruh donor-donor negara asing yang dengan dalih membantu rekonstruksi Aceh pasca bencana Tsunami, tetapi menyusupkan nilai-nilai barat yang dekonstruktif bagi budaya ketimuran? Atau segala kejanggalan di hatiku ini disebabkan pradigma ”konvensional” yang melekat padaku dan bisa jadi berbeda dengan pandangan para pembaca semua?

Tetapi satu hal yg mesti diperhatikan adalah bahwa cuplikan-cuplikan peristiwa yang kusampaikan dalam artikel ini belum cukup untuk menggambarkan Aceh yang seutuhnya. Ini hanyalah potret sesaat dari kameraku yg bisa jadi berbeda dengan wajah Aceh beberapa tahun yg lalu atau yg akan datang, dan akan berbeda jika diambil dari sudut yang lain meskipun dalam waktu yg sama.

Selengkapnya...

A Journey to Aceh: The Nekat Traveler

Rabu, 17 Desember 2008

“Kalau ingin rencanmu tidak mengalami kegagalan, janganlah merencanakan sesuatu”

Setelah sekian lama berharap, akhirnya pada awal Desember kemarin bisa kesampaian juga berkunjung ke Aceh. Dengan demikian, impian untuk keliling nusantara tinggal satu pulau lagi yaitu Kalimantan. Pulau-pulau lain seperti Bali, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, Ambon, serta Ternate sudah pernah kudatangi, lebih-lebih pulau Jawa yang selama ini ku tinggali. Bagiku, menjejakkan kaki pertama di daerah baru rasanya sudah sama dasyatnya seperti Niel Amstrong yang mendarat pertama kali di bulan atau seperti Colombus yang menemukan pertama benua Amerika…. bener-bener “mak nyusss” di hati. Apalagi pertama kali naik Garuda, meskipun bukan kelas bisnis tapi lebih uenak dan nyaman dibandingkan biasanya yang naik Lion Air, Adam Air (alm.), maupun Merpati Air.

Kunjungan ke Aceh kali ini sebenarnya terancam pupus karena kesulitan koresponden lokal sehingga jadwal perjalanan “dinas” harus ditangguhkan. Namun tiba-tiba sehari sebelum keberangkatan, ada pemberitahuan, “besok akan ke Aceh, kalau mau ikut kamu cari tiket sendiri nanti di-reimburse”. Singkat kata, akhirnya dapat tiket PP meskipun ga ngerti seluk beluk Aceh dan nanti mau ngapain. Yang ada dibenakku saat itu “yang penting bisa ke Aceh, urusan lain-lain bagaimana nanti”. Meminjam istilah dari seorang blogger dengan nick Trinity: the naked traveler. Perjalanan buta, dengan persiapan seadanya. Lebih tepatnya adalah NEKAT TRAVELER, mirip suporter Persebaya Surabaya yang dikenal sebagai Bonek (bondho nekat).

Saking tak inginnya keberangkatan ke Aceh gagal, aku naik taxi ke bandara Soekarno-Hatta dan tiba jam 7.30, meskipun keberangkatan ke Aceh baru jam 9.30. Lebih baik nunggu di bandara, daripada terjebak macet, maklum Jakarta gitu loh. Penerbangan Jakarta – Banda Aceh tidak langsung, tetapi transit dulu di Medan. Sama seperti masuk bandara, masuk ruang transit juga harus melewati metal detektor. Pada waktu pemeriksaan di Polinia Medan, gunting lipat saya ”terdeteksi” oleh petugas bandara dan diminta untuk dikeluarkan dari tas dan ditinggal (benda tajam tidak boleh masuk kabin pesawat). Padahal waktu di Soekarno-Hatta, pemeriksaan yang sama tidak bermasalah. Saya ga ngerti, sebenarnya bandara yang internasional itu yang mana? Seharusnya bandara Soekarno-Hatta tidak kecolongan dengan ”ulah nakal” saya yang sengaja membawa gunting ke kabin meskipun dalam keadaan terlipat.

Seteleh ”insiden” bandara terlewati, akhirnya jam dua siang, pesawat GA 142 yang kunaiki mendarat juga di Banda Aceh yang disambut dengan gerimis, seakan menggambarkan haru biru hatiku yang diberikan kesempatan oleh Allah untuk melihat dengan dekat Aceh, kota yang mendapat titel Serambi Mekah, kota yang ”terluka” akibat konflik kepentingan berkepanjangan, kota yang penduduknya diuji dengan gelombang pasang Tsunami.

Bagaimana kondisi Aceh saat ini? Hal-hal apa yang menarik dan memperihatinkan? Pelajaran apa yang bisa dipetik hikmahnya? Nantikan jawabannya pada postingan selanjutnya.


Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 12/17/2008 6 komentar  

Kita Bukan Saudara Sependeritaan

Senin, 15 Desember 2008

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”

Pengamen jalanan dengan berbagai modus operandinya merupakan pemandangan lumrah di angkutan-nagkutan umum ibu kota dan sekitarnya. Pernah saya menemui pengamen dengan suara pas-pasan tapi pede bernyanyi lagu pop sambil memetik gitar, ada yang melantunkan sholawat diiringi ketipung, ada yang membacakan puisi ataupun deklamasi, ada yang mengedarkan amplop yang ditujukan untuk sumbangan pembangunan tempat ibadah, membiayai rumah yatim piatu, atau hanya bertuliskan “untuk makan sehari-hari” (maklum yang mengedarkannya seorang tuna rungu sekaligus tuna wicara). Ada pula yang ga ngapa-ngapain, langsung minta kepada penumpang.

Untuk versi yang terakhir, ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk dikritisi. Pertama, pelaku umumnya pemuda seorang diri, berumur antara 20-30 th, sehat jasmani. Kedua, sebelum “menodongkan” tangan kepada penunpang, biasanya didahului dengan orasi. Umumnya orasinya kurang lebih seperti ini: 
“Mohon maaf Bapak/Ibu telah menggangu perjalanan Anda. Sebenarnya saya juga malu harus meminta-minta seperti ini, tapi terpaksa saya lakukan karena pengangguran. Kalau saya memiliki pekerjaan seperti Bapak/Ibu semua, pasti saya tidak meminta-minta di sini. Perbuatan meminta-minta masih lebih baik untuk dilakukan daripada saya harus mencuri, merampok, menjambret, atau melakukan tindakan kriminal lainya. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air, tetapi pastinya kita bukan saudara sependeritaan. Meskipun hanya uang recehan, pemberian Anda sangat berarti bagi kami. Keikhlasan Anda adalah rizki bagi kami. Semoga pemberian Anda dicatat sebagai amal jariyah dan semoga perjalanan Anda selamat sampai tujuan.” (Btw, kapan-kapan pengin saya rekam kalau ketemu lagi yang begituan biar ga salah kutip).

Terkadang saya miris dengan ulah mereka. Betapa tidak, mereka rata-rata pemuda yang tenaganya masih kuat kalau memang bener-bener niat bekerja. Bekerja bisa apa saja asalkan halal, misalnya pekerja bangunan, tukang kebun, asongan, office boy, dll. Kalau mereka menginginkan bekerja seperti penumpang bus kota yang umumnya pegawai kantoran, itu namanya pungguk merindukan bulan. Bukannya tidak mungkin, tetapi mereka bermimpi terlalu jauh dan kurang ”bercermin”. Pekerjaan harus disesuaikan dengan kondisi riil masing-masing individu.

Memang benar bahwa meminta/mengemis lebih baik dari pada melakukan tindakan kejahatan, tetapi membandingkan keduanya dalam satu kalimat seolah-olah memaksa logika kita untuk berfikir bahwa meminta adalah perbuatan terbaik. Secara tak sadar, kita sebenarnya dipaksa untuk memberi melalui manipulasi verbal tersebut. Selain itu, penggunaan perbandingan tersebut, tersirat bahwa pelaku sebenarnya telah putus asa sehingga menjadi cenderung malas bekerja dan hanya meminta-minta.

Yang lebih memperihatinkan lagi, terkadang perbuatan tersebut (meminta/mengemis/mengamen) dilakukan dalam keadaan mabuk. Tutur katanya amburadul, intonasinya cepat tapi ngelantur ga jelas, bahkan bau ”naga” tercium menyengat. Meskipun isi orasinya baik, tapi kalau dilakukan dengan mabuk, pesan yang tertangkap adalah bahwa hasil mengamen digunakan untuk mabuk-mabukan atau tindakan ga baik lainya (mis. judi).

Meskipun demikian, saya kembalikan pemaknaan di atas kepada rekan-rekan semua. Ini hanyalah ungkapan dari pikiran yang kalut di tengah gemerisik hingar bingar ibu kota yang semrawut. Mungkin, inilah ujian keikhlasan dan kesalehan sosial bagi kita bila memang ingin berbagi terhadap sesama, bisa kepada siapa saja, di mana saja, kapan saja, berapa pun jumlah pemberiannya.

Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 12/15/2008 1 komentar  

Kebersamaan itu Begitu Mengagumkan

Senin, 01 Desember 2008


“Jika ingin selalu berbau wangi, dekatilah penjual parfum”


Hati manusia itu sebenarnya sangat labil, kadang kuat penuh tekad dan semangat, namun tak jarang lemah dan mudah menyerah. Aktivitas yang telah kita niatkan dengan menggebu-gebu dan direncanakan dengan seksama, belum tentu dapat dilaksanakan pada waktunya. Penyakit malas itu agak susah obatnya, tapi bukan berarti tidak dapat diatasi. Penyakit malas bukanlah penyakit turunan.

Sebenernya sudah dari dulu aku pengen jogging minggu pagi untuk melenturkan otot-otot dan menjaga aliran darah tetap lancar serta jantung sehat. Berkali-kali keinginan hanya sebatas niat, tak pernah terealisasi. Berbagai skenario telah dirancang untuk mensukseskan misi, seperti pasang alarm, tidur tak terlalu larut malam. Namun setelah bangun tidur tetap saja berat melangkah, badan terasa lelah, mata berat sebelah... dasar payah. Hingga akhirnya terinspirasi istilah Mestakung (Semesta Alam Mendukung) yang dicetuskan oleh Yohanes Surya, pakar fisika Indonesia ternama.

Dalam hal ini mestakung saya maknai sebagai lingkungan yang kondusif (maaf Om Surya kalau mingkin salah mengartikan karena baca bukunya baru judulnya doank, ntar klo dah gajian aku beli bukunya… insyaallah). Metode ini cocok bagi hati/niat kita yang lagi lemah. Bila ingin mengerjakan sesuatu, ajaklah teman atau carilah kelompok/komunitas yang sesuai dengan keinginan yang ingin kamu kerjakan. Misalnya, pengin joging minggu pagi, ya datang ke Gelora Bung Karno, jangan ke Taman Lawang; pengin jadi anak sholeh, ya gaulnya sama anak-anak masjid, jangan sama preman; pengin lulus ujian, ya bikin kelompok belajar, jangan bikin kelompok tawuran, dsb.

Sungguh kebersamaan itu mengagumkan (red. Mestakung). Aku yakin kita pernah membuktikannya sendiri, tapi mungkin tanpa disadari. Ketika ku lari sendirian di lapangan bola yang sepi, satu putaran saja rasanya jantung mau copot. Ketika kemarin minggu di Gelora Bung Karno, ku bisa tahan jogging kurang lebih dua jam (termasuk jalan kaki, tengok kanan-kiri cari ”pemadangan indah”, berhenti sejenak ikut senam), total sekitar 8 putaran. Paling enak ketika lari dalam rombongan sehingga ga perlu lari zig-zag di sela-sela orang lain atau ga perlu ngerèm mendadak klo ada anak kecil nylonong lepas dari kawalan ortunya, dan bisa tiga putaran tanpa berhenti. Lelah dan cucuran keringat ga terasa, bahkan tidak terasa haus.

Begitu pula niatku untuk menulis artikel selalu kandas di tengah jalan. Dengan memiliki blog sendiri, aku berharap dapat mengkondisikan diri untuk tetap dan terus menulis, minilah nimbrung berkomentar di tulisan para blogger lainnya. Mari bersama-sama mengembangkan budaya menulis demi peradaban bangsa yang lebih baik. ”Bersama Kita Bisa? Yes We Can”.
Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 12/01/2008 3 komentar  

Cintamu Hanya Seceng

Kamis, 13 November 2008


"Tiada kata yg bisa kusampaikan selain maaf dan terima kasih, telah memberikan arti di hidupku yang sempit ini. Aku harus pergi bukan u/ meninggalkanmu, tapi hanya ingin terlepas darimu"

Kutipan di atas saya ambil dari puisi seseorang kepada kekasihnya di lembar uang seribu rupiah (seceng). Saya yakin, kalian juga sering menjumpai uang rupiah (uang kertas) dicorat-coret dengan tinta permanen, entah isinya puitis, makian, ato ucapan salam. Klo itu uang dollar, pasti tidak laku dan tidak bisa ditukarkan di money changer. Kelipat aj bank ga mau terima, apalagi dicorat-coret! Mungkin karena banyaknya kasus-kasus tersebut, Bank Indonesia pernah melakukan kampanye "pelestarian" uang rupiah dengan slogan 3D: Didapat, Disayang, Disimpan. Secara teknis, BI menghimbau agar uang jangan basah, jangan diremas, jangan dilipat, jangan distaples, dan jangan dicorat-coret (5 don't).

Sekarang, kembali ke masalah corat-coret uang kertas. Sepengetahuan saya selama ini, corat-coret dilakukan di lembaran uang dengan nominal kecil, misal seratus (warna merah), lima ratus (warna hijau), dan seribu (warna biru). Karena uang seratus dan lima ratus sudah tidak diterbitkan dalam bentuk uang kertas, corat-coret banyak dilakukan di uang seribu, kalau punya modal lumayan..... ya dilakukan di uang lima ribuan. Saya belum mendapati corat-coret di uang lima puluh ribu dan seratus ribu, paling-paling uangnya sudah kumal aja.

Seharusnya, kalau untuk membuktikan betapa bernilaianya cinta si penulis terhadap kekasihnya, ungkapan rasa dituangkan di lembaran uang kertas pecahan tertinggi. Kalau ditulis di lembaran seribu, kesan yang muncul adalah cintanya itu murahan. Apalagi klo ditulis di lembaran seribu dan lusuh; cintanya murahan dan usang.

***###***

Untuk para pengagumku:
Silakan tulis ungkapan perasaan hatimu padaku di lembaran seratus ribu rupiah sebanyak-banyaknya. Kemudian, berikanlah secara tulus ikhlas langsung kepadaku. Jikapun nanti tak bisa kuterima cintamu, akan kuterima dengan tulus uang pemberianmu. Terima kasih.


Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 11/13/2008 2 komentar  

Bangku Kosong

Selasa, 28 Oktober 2008

“Kita hidup dengan cinta, namun cinta saja tak cukup untuk hidup”


Belum pulih benar kesadaranku dari berita pernikahan dua orang terdekatku di bulan Oktober ini. Betapa tidak, keputusan menikah (akad nikah dan walimahan) diambil cuma dalam waktu sebulan setelah saling berkenalan (istilah kerennya ta’aruf). Logikaku seakan tumpul karena terus-menerus me-reload pertanyaan “Mengapa? Kok bisa? Apa jadinya nanti?” Seakan legenda Roro Jonggrang terulang, mendirikan candi dalam semalam. Persiapan resepsi nikah waktunya sempit apalagi mengumpulkan saudara-saudara jauh. Belum lagi calon mempelai yang bekerja aja penghasilannya pas-pasan, paling-paling ntar tinggal di pondok mertua indah (maaf). Benar-benar ga bisa ku pahami. Menikah, bagi mereka sepertinya keputusan yang mudah.

Kini, dihebohkan lagi dengan berita seorang Syekh pengasuh sebuah pondok pesantren di Semarang menikah kedua kalinya dengan gadis belia berumur 12 th. Uniknya, yang menyeleksi calon istri mudanya (muda dalam arti sebenar-benarnya) adalah istri pertamanya. Dan kabarnya pula, sang ayah ikhlas dan berbangga karena anaknya terpilih menjadi ‘selir’ sang Syekh dari proses seleksi yang ketat (hi hi hi… seperti ajang pencari bakat yang ramai di Indonesia saat ini). Pikiran pertama setelah pandangan pertamaku melihat istri mudanya: Wah… ni orang beruntung dapat bibit unggul, bisa untuk memperbaiki keturunan. Usut punya usut, katanya mau didik untuk mengurusi usahanya yang kini telah beromzet miliaran Rp.

Namun, ada juga teman (pi.) yang telah berumur 30+ namun belum menikah juga (masyarakat seringkali men-judge perempuan pada usia tsbt atau lebih sebagai perawan tua, padahal belum tentu masih perawan…*&%#@!). Bukan karena ga laku menurutku, karena paras cukup menawan dan penghasilan lumayan. Mungkin karena terlalu pilih-pilih. Kata bulekku (alm.), dalam hal jodoh, “wong lanang iku menang milih, nanging yen wong wadon iku menang nolak”. Karena itu pria sering pilih-pilih wanita dan harus bertarung merebutkannya karena banyak pesaingnya. Dan karena wanita menang nolak, maka banyak pria yang menjadi fans berat MU sampe mau gantung diri di bawah pohon kacang (bukan Manchester United yang notabene klub liga Inggirs terkenal, tapi kepanjangan dari Merana United, kumpulan orang-orang patah hati jaman SMA-ku dulu).

Setelah beberapa kali termenung, ku berusaha memahami bahwa mati, jodoh, dan rizki adalah mutlak di tangan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Betapapun manusia, berencana dengan logikanya, berusaha dengan tenaganya, dan berdoa dengan hatinya, namun hasil final, Tuhan yang menentukan sebagaimana telah tertulis di lauful mahfudz. Sungguh, sebuah hal yang terkadang masih sulit untuk dipahami dan diyakini. Mungkin karena itulah, “bangku merah”-ku (dan juga sebagian dari anda) masih kosong, belum kita duduki secara formal dan syah menurut agama dan negara. Semoga skenario indah Tuhan kan tertulis untuk kita.

 **####**

Seandainya kamu telah menemukan someone special  yang mampu menggetarkan hatimu, sedangkan kamu sendiri hidup aja masih susah, apalagi untuk menghidupi orang lain.

  1. Apakah demi sang pujaan hati, kamu berjuang mati-matian merebut hatinya dan mempertahankannya segenap hati? Ibarat pepatah: Lautan kan diseberangi, gunung kan didaki, dukun kan dikunjungi, dan kuburanpun kan digali. Ra entuk prawane, tak enteni jandane. Ataukah cukup memperjuangkannya sewajarnya, ra entuk deweke yo ra patekèn. Kalau jodoh tak lari kemana.
  2. Beranikah kamu membuat keputusan menikah dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tetap memberi rizki-Nya sesuai keadaan kita dari jalan yang tidak disangka-sangka? Tetap optimis seperti cicak yang tak bisa terbang, namun dapat tetap hidup (memperoleh rizki) meskipun mangsa/makanannya memiliki sayap dan gesit (nyamuk). Dengan modal nekad (cinta) mengalahkan logika bahwa hidup sendiri masih susah dan berantakan apalagi hidup dengan orang lain (khusus bagi pria yang menjadi tulang punggung rumah tangga).

 

Selengkapnya...

Diposting oleh alhayat di 10/28/2008 0 komentar  

Blogger Login Form

Please enter your username and password to enter your Blogger Dasboard page!